Bentuk-bentuk imajinatif dalam semesta warna Daniel Kho berkali-kali mengusik rasa penasaran dalam diri. Nuansa geometris yang membentuk figur sekilas serupa undangan untuk mengisi blok-blok kosong dengan warna sesuka hati. Selayaknya jiwa masa kecil ketika berkenalan dengan warna dalam upaya untuk mengisi ruang-ruang hitam putih yang cenderung membosankan kala itu.

Suatu ketika, beberapa tahun lalu, kami bertemu di Jakarta dalam persiapan pameran tunggalnya. Sambil lalu, Daniel mengundang untuk membantu mengisi beberapa warna dalam karyanya, “diwarnai bebas saja, sesuka hati,” penulis dengan senang hati sambil kebingungan berpartisipasi dalam semesta imajinasi itu. Tidak lama kemudian, di momen yang lain, kami mengobrol tentang pengalaman masa lalunya yang terpapar dengan gerakan Fluxus periode 1960-1970-an, “pantas saja,” pikir penulis kala itu. Penulis mencoba mengaitkan pengalaman macam apa yang menyebabkan Daniel begitu bebas tidak hanya ketika berkarya, tetapi juga dalam laku dan caranya mempresentasikan diri.

Kali ini merupakan percobaan kesekian untuk lebih memahami karya Daniel Kho.

Daniel memilih tajuk djagHadq sebagai representasi atas semesta keunikan, keanehan, serta kebebasan dalam mengalami situasi kini sekaligus lampau dan yang akan datang. Daniel menyoroti manusia dalam aspek-aspek yang saling tumpang tindih, saling bertolak belakang, sekaligus saling menghancurkan. Segala kegelisahannya terkait manusia ditumpahkan dalam geliat warna dan bentuk-bentuk yang tampak menyenangkan di permukaan, tetapi penuh dengan intrik. Warna dan bentuk dihadirkan secara serta merta, lugas, layaknya mengalami mimpi. Tidak direncanakan, terkadang dinanti, terkadang tidak diinginkan, tetapi harus dialami hampir di setiap kali manusia terlelap.

Mimpi seperti menjadi kunci dalam membuka jagad Daniel di djagHadq.

Dalam telusur yang lebih jauh, setiap karya Daniel tidak hanya merepresentasikan semesta mimpi yang bebas sekaligus terbatas, karyanya juga mengandung telaah-telaah atas apa yang dialami dan diperbuat oleh manusia. Mimpi menjadi visi, dan kemudian kenyataan. Proses tersebut dibayangkan terjadi dalam siklus yang tidak bisa ditentukan titik awalnya. Rangkaian karya-karya dalam djagHadq berada dalam pusaran semesta warna dan bentuk Daniel Kho yang melakukan penilikan atas ragam pola perilaku manusia.

Daniel seperti terbang melihat manusia dari kejauhan untuk kemudian mendekatinya, menghancurkannya, dan membentuk manusia-manusia baru dalam djagHadq.

Kali ini, rasa penasaran pada karya Daniel Kho perlahan bertransformasi menjadi keresahan atas situasi-situasi hari ini. Membayangkan dunia yang seolah hanya diisi oleh manusia telah melahirkan ragam eksploitasi yang menghancurkan dunia itu sendiri. Apa makna menjadi manusia hari ini? Tajuk djagHadq yang sekilas tak terbaca, lama kelamaan terang benderang terbaca dan terasa masuk akal. Oh!


(Pengantar pameran untuk djagHadq, pameran tunggal Daniel Kho, 6 Maret-3 April 2026, ArtSociates, Lawangwangi Creative Space, Bandung, Jawa Barat, Indonesia)