Ketika manusia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terkait darma serta makna eksistensinya di dunia, maka bermunculan kerumunan pikiran yang mengarah pada manifestasi atas kebenaran. Tentang apa saja yang sah, apa saja yang baik, dan apa saja yang selaras. Memaknai kehidupan sebagai manusia sesungguhnya juga menelusuri pendaran alam semesta yang kemudian memunculkan kesadaran bahwa poros kehidupan tidak benar-benar ada dalam individu-individu manusia, melainkan berada pada relasi harmonis bersama makhluk hidup lain, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam konstelasi kepercayaan masyarakat Sunda, relasi harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dapat ditelusuri melalui penggunaan kata ‘ci’ khususnya dalam penamaan beberapa daerah di Jawa Barat. Spektrum definisi pemaknaan kata ‘ci’ mencakup fenomena cahaya atau pendar (berasal dari bahasa Sansekerta), dan ‘cai’ yang berarti air (dimaknai sebagai mata air sekaligus sungai sebagai sumber kehidupan). Kata ‘ci’ kemudian memancarkan ragam makna, menjadikannya satu bentuk pendaran yang mengarah pada interaksi saling berbagi dalam semesta kehidupan.

Restu Taufik Akbar menyajikan sebuah gagasan atas proyeksi diri atau bahkan meleburnya diri dalam presentasi terbarunya bertajuk Pendar Menderma. Melalui serangkaian olah artistik cat polyurethane, nitrocellulose, dan vitrail di atas permukaan stainless steel mirror, Restu mencoba menelaah kembali relasi dirinya dengan potensi komposisi dalam seni lukis dalam kaitannya terhadap ruang dan interaksi penonton. Erat berkaitan dengan unsur alam dalam pilihan bentuk, warna, dan kehadiran cahaya, Restu menghadirkan seri terkininya dalam gugus insun medal, insun madangan (ungkapan dalam bahasa Sunda yang berarti ‘aku lahir untuk memberi pencerahan’), sebuah prinsip hidup yang berkelindan dalam ruang lingkup asal usul eksistensinya sebagai manusia.

Cahaya (atau ‘ci’ dalam kaitannya dengan bagaimana Restu menyusuri kembali latar belakang dirinya) menjadi kunci dalam membuka lapisan-lapisan makna Pendar Menderma. Keseluruhan karya dipresentasikan dalam dua ruang yang masing-masing memaknai perihal keberadaan diri dan sumber cahaya, atau dalam hal ini sumber pencerahan. Satu ruang yang penuh dengan cahaya, sementara ruang lain mengharuskan manusia (atau penonton) untuk mengaktifkan cahaya. Dua bentuk interaksi yang kemudian membuka jalan bagi kehadiran olah imaji Restu atas berpendarnya warna, bentuk, serta nuansa alam. Dalam proses berkaryanya, pemanfaatan warna dilakukan secara akumulatif. Sebuah laku yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga bagaimana upaya-upaya mengakumulasi warna merupakan simbol atas bertumpuknya lapisan-lapisan (pengalaman) diri yang pada akhirnya melebur dalam liku alam dan kehidupan.

Orientasi dan metode pemajangan karya dalam Pendar Menderma merupakan manifestasi atas gagasan hubungan antar manusia serta interaksinya dengan alam yang membentang secara horizontal. Sementara potongan karya mengindikasikan orientasi yang cenderung vertikal, mengarahkan pada gagasan hubungan dengan Sang Pencipta. Aspek spiritual secara implisit dihadirkan Restu melalui ragam potongan karya diptych, triptych, dan double diptych (potongan 2, 3, dan 4), merepresentasikan jumlah rakaat dalam ibadah lima waktu yang diwajibkan bagi umat Muslim. Rasio perbandingan 1:2 dalam pemahaman material produksi pabrikan stainless steel (122 x 244 cm) sedikit banyak memicu inspirasi dalam memandang rasio yang juga sangat manusiawi dalam kaitannya dengan ukuran tubuh serta ragam kain pakai dalam berbagai ritual dan tradisi Nusantara.

Melalui kompleksitas serta akumulasi lapisan makna dalam Pendar Menderma, Restu menghadirkan bentuk-bentuk pemikiran atas esensi manusia sebagai makhluk fisik sekaligus spiritual (roh). Dalam konteks perkembangan teknologi hari ini, manusia juga dapat dipahami sebagai makhluk yang membagi dirinya ke dalam ranah maya atau virtual yang seringkali menjadi ranah untuk mempresentasikan diri yang ‘lain’. Karya-karya dalam Pendar Menderma merupakan manifestasi poros-poros reflektif yang memproyeksikan hakikat manusia dalam relasinya dengan lingkungan sekitar serta semesta tempat ia hidup.

______________________________________________________

When humans are faced with questions about dharma and the meaning of their existence in the world, a multitude of thoughts arises, leading to manifestations of truth—about what is legitimate, what is good, and what is in harmony. To find meaning in human life is, in essence, to trace the radiance of the universe, which in turn brings about the awareness that the axis of life does not truly reside within individual human beings, but rather in a harmonious relationship with other living beings, nature, and the Creator.

In the constellation of beliefs within Sundanese society, the harmonious relationship between humans, nature, and the Creator can be traced through the use of the word “ci”, particularly in the naming of several regions in West Java. The spectrum of meanings attached to the word “ci” encompasses phenomena of light or radiance (derived from Sanskrit), as well as “cai”, which means water—understood as both spring and river, symbolizing the source of life. The word “ci” thus radiates multiple meanings, becoming a form of luminous emanation that points toward a shared interaction within the universe of life.

Restu Taufik Akbar presents a concept of self-projection—or even self-dissolution—in his latest presentation titled Pendar Menderma. Through a series of artistic explorations using polyurethane, nitrocellulose, and vitrail paint on stainless steel mirror surfaces, Restu reexamines his relationship with compositional possibilities in painting, particularly in relation to space and audience interaction. Deeply connected to elements of nature through his choice of forms, colors, and the presence of light, Restu unveils his latest series within the cluster insun medal, insun madangan (a Sundanese expression meaning “I was born to bring enlightenment”), a life principle intertwined with the origins of his existence as a human being.

Light (or “ci”, in relation to how Restu retraces his personal background) becomes the key to unlocking the layers of meaning in Pendar Menderma. The entire body of work is presented in two spaces, each reflecting aspects of selfhood and the source of light—or in this case, the source of enlightenment. One space is filled with light, while the other requires the human presence (or the viewer) to activate the light. These two modes of interaction then pave the way for Restu’s visual articulation of radiating colors, forms, and natural atmospheres. In his creative process, color is utilized accumulatively—a practice that is not only technical, but also symbolic of how the act of layering colors represents the accumulation of layers (of personal experience) that ultimately dissolve into the rhythms of nature and life.

The orientation and method of displaying works in Pendar Menderma manifest the idea of both human relationships and their horizontal interaction with nature. Meanwhile, fragments of the works suggest a predominantly vertical orientation, pointing toward the notion of a relationship with the Creator. Restu implicitly introduces a spiritual dimension through various diptych, triptych, and double diptych compositions (in sets of 2, 3, and 4), which correspond to the number of rak’ahs (units of prayer) in the five daily Islamic prayers. The 1:2 ratio, derived from the standard dimensions of factory-produced stainless steel sheets (122 x 244 cm), has in part inspired reflections on proportion—one that is also deeply human, relating to bodily dimensions and the diverse textile forms used in various rituals and traditions across the archipelago.

Through the complexity and accumulated layers of meaning in Pendar Menderma, Restu presents reflections on the essence of the human being as both a physical and spiritual (soul) entity. In the context of today’s technological developments, humans can also be understood as beings who divide themselves into the virtual realm—a space that often becomes a platform for presenting an ‘other’ self. The works in Pendar Menderma are manifestations of reflective axes that project the nature of humanity in relation to its surroundings and the universe in which it lives.


(Curatorial Essay for Pendar Menderma, A Solo Presentation of Restu Taufik Akbar, 31 July–1 September 2025, CAN’S Gallery, Jakarta, Indonesia)